Sabtu, 15 Desember 2012

Abu-abu

Lihatlah ke cermin, betapa cantiknya aku. Chick dengan kemeja putih yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka. Pin up  berbentuk pita diselipkan cantik agar renda bra nonaku tidak menyembul. Tubuh sintal dan wajah cantiknya luar biasa memesona. Apalagi setelah dia taburkan bedak ke wajahnya, juga sapuan lip gloss pada bibir tipisnya.Hari ini aku siap menemani nonaku yang cantik. Aku abu-abu yang luar biasa, meliuk ketat mulai pinggul bawah sampai sekitar tujuh centi di atas lutut. Begitu keren apalagi saat nona memboceng mesra di atas Ninja Badman si tuan pacar. Perpaduan yang membuat semua mata melirik. Sungguh beruntung punya nona cantik nan gaya seperti ini.  

                    ^^ .. ^^

Namaku juga abu-abu. Nonaku cantik. Dia memilihku yang panjang sampai ke mata kaki. Temanku kemeja putih biasa, ukuran dan modelnya sangat standard. Aku menemaninya setiap Senin dan Selasa, bangga rasanya menjadi saksi betapa pandainya dia belajar. Dia tidak banyak bicara tapi cerdas. Lihatlah sekarang dia amat serius mendengar ibu guru biologi menerangkan. Iseng anak laki-laki di belakangnya menepuk bahunya. “Kok message dari jabber aku nggak kamu jawab sih?” Nonaku mengernyit malas, dia buka jabber di pojok notebooknya.

Beautiful girl, you are the queen of my heart
    Let me dating yau Baby, and you will understand

Lalu apa jawaban nonaku?

    UNDERSTAND about what????
    And you said “BABY” ?
    That was fugly thing you ever said,boy
    I never become your baby, for Tax Saverio dress sake

    Jangan coba-coba merayu nonaku, apalagi se-standard itu. Dalam hatinya, “Emang gua bayi kemaren sore? Najis dirayu bocah ingusan kayak elu. You are toomuch Bollywood, darling. And me, sorry I’m in Hollywood line.”
    Beda sekali dengan nona saudaraku di sebelah ini. Sibuk sekali dia, facebook dan twitter-nya asyik menyala. Sesekali setelah menatap layar notebook pipinya berseri-seri. Ini yang membumbung di otaknya, “Oh Gosh! Tuh kan gua bilang juga apa, cowok mana sih yang nggak bilang gua cantik. Ga papa deh flirting bentar, toh cinta gua cuma buat my prince seorang. Duh kangen deh, sekarang dia lagi apa ya? Basket pake kostum pas badan, uh pasti sixpacksnya tambah cool”

                    ^^ .. ^^

    Abu-abu. Mungkin sebagian orang tak menganggap berarti keberadaan kami. Tentu mereka tidak sadar betapa setianya kami. Menemani dari awal sejak ukuran kami belum berani disempitkan atau dipangkas panjangnya, hingga nanti ketika tiba waktu kami ikut bersuka cita dengan lipahan cat pilog. Apalagi SMA itu seperti kembang api yang warna-warni. Sahabat, musuh, lucu, sedih, cinta, gembira, semuanya adalah keceriaan. Dia hadir dan memilih caranya bernaung. Seperti nonaku yang cantik, keceriaan SMA-nya bernaung pada satu cinta labil yang meletup-letup.
    “Buat aku, cinta itu adalah saat kamu ada di depanku, tersenyum dan kamu bilang kamu juga ngerasain cinta yang sama kayak aku.”
    Nonaku tersenyum indah pada pacarnya itu, “Just hear this, this heart is yours,”balasnya.
    “And  just feel this!” Si tuan mendekat, sepuluh detik pertama bibir mereka hanya menempel empuk, selanjutnya orang-orang menyebut itu Franch kiss, aku sendiri tak paham. Awalnya nona terlihat lugu dan tidak berpengalaman, tapi bukankah Franch kiss itu nikmat? Jadi apa salahnya kalau ganti dia yang melumat bibir bawah tuan dan sesekali menghisap lidahnya.
Oh My, he is absolutely a hot boy.
Tuan melepas ciuman panjang mereka dengan sangat halus. Dibelainya rambut nona tanpa memalingkan tatapan elangnya sedikitpun. “Let’s rock this night,Baby!” bisiknya.
 Cepat sekali bibir tuan sudah sampai ke leher nona. Dalam nafas yang mulai memburu, nona berbisik, “I will start the game.”

OH NO!

Nona membiarkan aku terlepas dari tubuhnya. Aku menyesal masih ikut bersamanya dalam saat seperti ini. Lagi-lagi aku hanya saksi bisu. Aku dicampakkan begitu saja. Lihatlah, keterlaluan benar mereka. Bayangkan, ini di jok mobil yang diparkir sekenanya, asal gelap dan sepi saja. Apalagi pekara ini Tuhan? Dia masih perawan, darahnya tumpah padaku. Ya ampun, malah sekarang tuan mengambilku untuk membersihkan cairan mirip santan itu. Hey, tolong! Aku bukan serbet!
Tak terlalu lama mereka bergumul seperti itu. Nona bersandar pada dada tuan yang bidang. Tampak sedikit keringat di dahinya.
“Cool –kan, Hon?”
Nona merapatkan tubuhnya, “Sakit, Say.”
Tuan membelai rambutnya, “Tapi....”
“Nikmat sih, apalagi sama kamu.”
Satu kecupan tipis mendarat, “You’re rock, Honey!”
Berdua tersenyuam lebar, tertawa cekikikan. Kebahagiaan abu-abu yang diambil nonaku, yang seperti ini...

Gua beruntung ML pertama ama orang yang gua sayang, cinta pertama gua!
Dan gua bukan perek.
Keperawanan gua nggak gua jual kayak yang banyak dilakuin temen-temen gua.
Gua bayar pake cinta, gua nikmatin, bukan gua tuker pake rupiah!

Meskipun aku tak tahu bagaimana riwayatku selanjutnya, bisa saja aku tak akan lama lagi menemani nona. Bisa saja beberapa bulan lagi mungkin perutnya tidak cukup kutampung. Ya, bisa saja! Tapi semoga nasib nona tidak seperti namaku. Dia tidak pandai di sekolah, remaja masa kini yang fashionable, yang cantik, yang energik, dan yang ceroboh. Ah, setidaknya aku telah menemaninya menjalani masa indah itu, SMA. Telah aku jalani tugasku dengan baik. Bagaimana kabar saudaraku, hey, di mana kamu?

                    ^^ .. ^^

Aku di sini. Nona datang ke tempat ini setelah proses yang lumayan panjang, dan tentu saja aku selalu menemaninya. Aku mendengar bisik-bisiknya dengan perempuan cantik yang sering ditemuinya akhir-akhir ini, katanya, “Kalo pakai baju abu-abu ada nilai plusnya.” Oh senangnya, nonaku akan mendapat nilai plus hanya dengan memakaiku.Nona terlihat amat sumringah, sesekali bibirnya menggumam ringan, “PC tablet, atau BB baru. Ya ya ya.. atau tas LV, atau sepatu, atau...” Nona hanya duduk sendiri di ruangan ini. Baru saja dia ambil satu pil berwarna pink dari tasnya, cepat saja diminumnya. Sebentar kemudian ada bunyi pintu terbuka. Seorang laki-laki paruh baya masuk, tambun dan jelalatan. Nona tersenyum manis. Bapak itu mendekatinya, “Langsunng saja, cantik!”
Dan beginilah ceritanya. Nona masih baik hati, aku ditinggalkan di toilet bersama temanku kemeja putih. Setidaknya, aku tidak melihat apa yang dua manusia itu lakukan, hanya terdengar pekik kecilnya. Sepertinya sama dengan nona saudaraku, dia juga masih perawan. Tapi nampaknya dia sedikit lebih cerdas. Aku yakin aku masih akan menemaninya jauh lebih lama, mungkin juga sampai nanti SMA yang indah ini benar-benar berakhir. Nasibku lebih baik, aku si abu-abu panjang dengan nona yang terlihat amat biasa dan lugu. Sayang hanya kelihatannya saja seperti itu. Meskipun aku juga kecewa, tapi akan tetap setia pada nona. Beginilah pilihan nonaku...

Gua bukan ababil konyol yang nyerahin badan
ke cowok yang ngegombal cinta dan kangen.
Juga bukan ke suami gua yang nggak bisa dipastiin dia jaka atau nggak.
Ini hidup, Sob!
Janji, sumpah, itu semua cuma kata-kata. Anak kecil aja juga bisa.
Please deh, yang pasti-pasti aja!

                    ^^ .. ^^

Nama kami abu-abu. Semoga tuan dan nona yang memakai kami tidak bernasib seperti nama kami.



                    ---done---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar